PEMBUATAN GARAM MOHR

 

Garam Mohr atau biasa disebut garam rangkap. Garam Mohr umumnya digunakan dalam proses pembuatan larutan baku Fe2+. Hal ini dikarenakan dari komposisi yang terkandung dalam setiap molekul garam Mohr. Dalam garam Mohr terdapat kation besi (II) dan kation ammonium sebagai unsur utama penyusunnya. Kedua jenis zat ini saling berikatan dengan anion sulfat membentuk suatu garam rangkap.

Garam rangkap sendiri merupakan garam yang memiliki dua jenis kation dalam unsure penyusunnya, namun hanya kation logam-lah yang akan menjadi atom pusatnya. Hal ini dikarenakan sifat dari logam yang cenderung melepaskan elektron daripada menangkap.

Proses pembuatan garam Mohr dimulai dengan cara melarutkan potongan-potongan logam besi dalam larutan H2SO4. Proses pelarutan ini harus dilakukan sambil memanaskan larutan tersebut. Hal ini dilakukan untuk mempercepat proses pembentukan larutan besi (II) sulfat dengan jalan melepaskan ikatan hidrogen pada asam sulfat dan menggantinya dengan logam besi sambil melepaskan gas hidrogen, sehingga membentuk ikatan logam yaitu FeSO4 Selanjutnya proses pelarutan ditandai dengan larutan yang menjadi homogen dengan logam besi. Kemudian larutan disaring dalam keadaan panas, untuk menghilangkan logam besi yang belum larut. Filtrat hasil penyaringan ditambahkan larutan asam sulfat kembali untuk mempercepat proses pembentukan Kristal. Larutan dipanaskan secara perlahan dan diuapkan untuk menghilangkan kandungan air yang masih terdapat pada larutan. Sambil tetap dipanaskan.

Proses selanjutnya adalah proses pembuatan larutan ammonium sulfat. Proses ini dilakukan dengan mengencerkan ammonia dalam larutan H2SO4 10% sambil dipanaskan. Proses pemanasan akan memutuskan ikatan hidrogen dan menggantinya dengan ammonia sambil melepaskan molekul air yang berasal dari larutan asam sulfat, sehingga menjadi ammonium sulfat (NH4)2SO4. Proses ini akan menghasilkan 2 jenis lapisan pada larutan, yaitu lapisan larutan ammonium sulfat dan air. Perbedaan lapisan ini dikarenakan perbedaan kepolaran dan massa jenis dari kedua larutan tersebut.

            Tahap selanjutnya adalah proses pencampuran kedua jenis larutan yang telah dibuat sebelumnya, masing-masing dalam keadaan panas. sebab panas merupakan energi yang dapat mempercepat reaksi. Proses ini akan menghasilkan Kristal garam Mohr yang masih kotor oleh larutan yang belum mengkristal  (NH4)2FeSO4.6H2O. tetapi hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan yang diharapkan. Ketika selesai membuat larutan A terjadi gangguan yang tak diduga. Sehingga untuk membuat larutan B dan proses selanjutnya berhenti. Selain itu, kristal tidak terbentuk dikarenakan mendinginnya larutan A, berdasarkan prosedur kerja larutan A dan B direkasikan dalam keadaan panas. Untuk itu hasil akhir dari percobaan ini adalah tidak terbentuk kristal. Rendemen yang diperoleh adalah 0 %.

Komentar